If the dark night makes it harder for us to sleep, there’s nothing to blame just because it’s suddenly all irregular.

The sound of longing was even louder than the sound of crickets in the village, or even louder than the sound of a horn in a total traffic jam.

Words are scattered unable to neatly arrange themselves, to describe the art of loving and being loved.

A cup of bitter black coffee – never even able to describe the longing of two hearts that are physically distant but whose heart is very attached.

 

There’s nothing to blame, though longing to make a mess.

We still seek happiness,

in the midst of the crowd.

A group of hands of party fans being raised to the hit of the music and band

 

INDONESIAN: Kita Masih Saja Mencari Kebahagiaan di Tengah Keramaian [#NarasiLestari 29]

Bila malam yang pekat semakin membuat kita sulit tidur, tak ada yang perlu disalahkan hanya karena mendadak semua tidak teratur.

Suara kerinduan bahkan lebih nyaring dari suara jangkrik di desa, atau bahkan lebih bising dari suara klakson di kemacetan kota.

Kata-kata berhamburan tak mampu menyusun diri dengan rapi, untuk mendeskripsikan seni mencintai dan dicintai.

Secangkir kopi pahit yang pekat–bahkan tidak pernah mampu mendeskripsikan rindu dari dua hati yang fisiknya jauh namun hatinya sangat lekat.

 

Tak ada yang bisa disalahkan, meski rindu seringkali jadi membuat perasaan tidak karuan.

Kita masih saja mencari KEBAHAGIAAN,

di tengah-tengah KERAMAIAN.

Woman with long-hair sleeping on the brick balcony edge among skyscrapers in New York

Salam Bahagia dan Lestari

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *