Hujan datang lebih sering dari biasanya
Bukan selalu tentang kepedihan yang bercerita
Hujan layak menenangkan
Bukan mendatangkan kepedihan


Kita mencari-cari keajaiban
yang padam di dasar perpisahan
Serupa menyingkirkan ampas kopi di permukaan
Kadang kita ingin membuang kenyataan


Lihatlah hujan yang akan menumbuhkan
Serupa gerbang baru yang terbuka sesudah perpisahan
Teguklah kopi malam ini
meski masih dengan hati yang patah sekali lagi
lalu tataplah kemungkinan esok pagi


Sepahitnya harapan yang ditinggalkan,
Sepahitnya kopi dalam perpisahan,
Tetap saja tak ada yang bisa disalahkan
Dan kenyataan,
mengiklaskan kepergian
mungkin bisa jadi hal manis kemudian


Aku masih akan selalu suka kopi
meski kamu tidak ada lagi di hati ini
Aku tidak akan dendam lagi
meski kamu yang meninggalkanku sendiri


Cahaya di jendela menanti di luar sana
telah terbuka
akan kulapangkan dada
melepaskan segalanya
dengan segelas kopi yang masih tanpa gula.









Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *