Menyamakan pemikiran, tidak akan pernah bisa menjadi semudah yang selama ini ada dalam pemikiran. Berbagai persepsi muncul dengan banyak dugaan. Saling tuduh menuduh tanpa alasan. Krisis kepercayaan memicu pertengkaran dan perpecahan.


Sulit untuk kau coba pahami aku. Yang ada hanya kau yang gagal mengerti tentang aku. Kita bertengkar dan selalu bertengkar hanya untuk mengatakan siapa yang paling rindu, hanya untuk mengatakan siapa yang cinta tanpa ragu.


Kopi berbeda. Beda warna, beda rasa, beda rasa menyajikannya, beda penyuka. Layaknya sebuah hati yang berbeda inginnya. Meski kita sama-sama menginginkan sebuah cinta, tetap saja keadaannya telah beda. Kita sulit menjalin kebersamaan tanpa luka. Apa kita sanggup menanggung bebannya bersama? Apa kau tak akan pergi lagi serupa yang sebelumnya?


Beda persepsi. Beda masalah yang ada di kepala dan hati. Bagimu mungkin akan mudah, tapi bagiku terasa lebih susah. Mungkin menuduh adalah hal yang mudah, tapi aku hanya tak ingin terluka bertambah parah.


Bukan tentang tidak cinta atau cinta. Tapi tentang seberapa jauh kau tidak menimbulkan luka, karena harusnya kau paham aku sudah lelah untuk menyembuhkan luka. Kutunggu kau dengan bukti bukan janji yang justru memperparah luka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *