Rasa tidak pernah cukup sampai kapan pun bisa membunuh jiwa manusia. Ada yang sudah di puncak, tapi ingin terus menanjak untuk menaklukkan tahta, tanpa sadar dia bisa jatuh seketika.

Maka saat kau katakan kau akan berhenti dari posisi pekerjaanmu, aku sama sekali tidak mengkhawatirkan apa pun.

“Aku berhenti, aku sudah merasa cukup, tapi bukan berarti kita akan berhenti melakukan sesuatu untuk kehidupan. Kau percaya padaku, kan?” Kamu berkata meyakinkanku saat sedang menunggu angkutan dari pusat kota ke kampungku.

Aku memberinya senyum, selalu. “Kalau aku tidak percaya kamu, mana mungkin detik ini kita bisa di sini.”

Lalu, ada mobil bagus berhenti dan kaca mobil terbuka. Pengemudinya menyapa.

“Mau ke mana? Aku bersedia mengantar kalian.”

Percakapan singkat pun terjadi antara kamu dan pengemudi paruh baya itu. Kemudian, kamu menggandeng tanganku sambil sebelah tanganmu lagi membukakan pintu untukku. Bawaan kami yang hanya ransel masing-masing tidak kami letakkan di bagasi.

“Kenapa Bapak mencari penumpang dengan mobil bagus?” tanyaku penasaran saat aku dibisiki olehmu tarif mobil ini yang sangat murah di luar perkiraan kami.

Si Bapak tersenyum dari kaca spion, lalu menjawab, “Sangat menyenangkan bila penumpang saya merasa senang naik mobil bagus, tentu saja dengan harga murah. Kehidupan saya sudah merasa cukup, tapi saya tidak akan berhenti melakukan sesuatu untuk kehidupan.”

Aku dan kamu saling bertatapan. Ucapan si Bapak sangat persis dengan ucapanmu.

“Kalian untuk apa ke desa itu? Sangat sepi di sana. Banyak penduduknya yang memutuskan pergi ke daerah lain untuk mencari kehidupan lain.”

“Memulangkan jiwa,” jawabku singkat di dalam pelukanmu yang erat.

“Ya, saya percaya. Tanah kelahiran selalu tempat terbaik untuk memulai kembali. Memulai banyak hal. Saya melihat kalian sudah sangat bosan dengan berbagai kesombongan, perebutan kekuasaan, dan segala macam hal yang sungguh melelahkan. Dan satu lagi, saya suka gaya kalian.”

“Gaya?” Kamu menyergit keheranan.

“Pakaian kalian sangat sederhana untuk seseorang yang baru pulang dari kota. Tapi saya percaya hati kalian sangat luar biasa.”

Aku menatap dalam kamu. Perkataan si Bapak itu semakin menenangkanku. Aku tidak takut apa pun lagi untuk bisa bersamamu.

Si Bapak adalah orang yang tepat untuk menyakinkan kami berdua, dan memang tidak ada yang kebetulan di dunia.


Kami melangkah tanpa alas kaki ke sebuah tanah milikku, setelah kami meminta izin di rumah warga untuk tinggal sementara.

Ada pohon sangat besar di tanah pemberian orang tuaku yang sudah meninggalkan. Aku membesarkan pohon itu dengan penuh kasih sayang. Umur pohon itu seperempat umurku.

“Aku hanya punya pohon itu, dan akan kurelakan untuk membuat rumah bagi kita dengan simpanan uang yang kamu punya. Lalu, kita tidak akan punya apa-apa lagi.”

“Kita akan membangun rumah, Sayang.”

Rumah Sederhana, tapi penuh cinta, asalkan berbahagia. By Niv Rozenberg

“Dan, kita bisa menanam pohon lagi bersama-sama dengan penuh cinta,” ucapku menenangkanmu.

“Kita punya cinta. Yang tersisa memang hanya cinta, tapi percayalah itu lebih cukup dari apa pun untuk menjalani sisa usia.” Kamu mengajakku duduk di bawah pohon. “Kau mau mendengarkan sebuah cerita?”

Aku mengiyakan, sambil merebahkan kepalaku ke dadamu yang selalu kupercaya bisa menghangatkan.

Perlahan kau bercerita, sambil kita menikmati senja, dengan tanpa gelar apa-apa, yang kita punya hanya diri kita.

“Ada seorang anak laki-laki dan perempuan yang sedang jatuh cinta setengah mati. Mereka memutuskan untuk saling bertukar hadiah ketika bertunangan. Tapi sayangnya mereka sangat-sangat miskin.”

“Lalu apa yang terjadi pada mereka, Cinta?”

“Anak laki-laki itu hannya memiliki satu hal yang berharga yaitu arloji yang diwarisi dari kakeknya. Dia memutuskan untuk menjual arloji ketika ia membayangkan rambut kekasihnya yang indah. Dia ingin membelikan jepit rambut perak bagi kekasihnya.”

“Perempuan itu ingin membelikan apa?”

“Karena anak perempuan itu juga tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah bagi kekasihnya, akhirnya dia menjual rambut emasnya di toko milik pedagang paling sukses di kota itu. Akhirnya dengan uang yang didapat, ia membelikan rantai jam emas bagi kekasihnya.”

Aku terkejut. “Bagaimana dengan nasib mereka? Karena arloji milik lelakinya sudah dijual.”

”Ya, ketika bertemu di pesta pertunangan, si anak perempuan memberikan rantai jam untuk arloji yang telah dijual kekasihnya, dan si anak laki-laki memberinya jepitan untuk rambut yang tak lagi dimiliki kekasihnya.”

Kami terdiam merenungi keadaan dalam pelukan.


Suatu hari, ada seorang pemuda yang menghampiri kami di areal rumah warga yang menjadi tempat penginapan. Aku rasa pemuda itu juga merantau di kota yang sama denganku dahulu.

“Kalian traveller dari mana?” Ya, wajar saja dia bertanya begitu karena penampilan kami sesederhana apa pun tetap berbeda dengan warga setempat.

“Pulang kampung,” jawabku singkat pada orang yang masih kuanggap asing.

“Oh, kalau saya hanya mampir sebentar merekam kebudayaan di sini untuk saya posting di Steemit?”

“Hah, Steemit?”

Aku dan kamu berpandangan. Selama di kota, aku belum pernah mendengar kata Steemit. Kata “posting” segera membawaku ke pengertian media digital.

Akhirnya lelaki itu berbicara panjang lebar disertai menunjukkan ponselnya sebagai contoh nyata Steemit itu.

Sepertinya kamu mulai paham, sementara aku belum sepenuhnya paham.

“Hei, kamu benar! Tidak ada yang kebetulan di dunia ini!” Matamu berbinar.

“Memangnya kenapa?”

“Kamu tidak perlu khawatir! Memang yang tersisa di antara kita hanyalah cinta, tetapi selama ada Steemit, tidak akan ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Hah?” Lagi-lagi aku masih belum paham.

“Kita sudah berjanji tidak akan berhenti melakukan sesuatu untuk kehidupan, dan kita bisa memulainya bersama Steemit,” ucapmu mantap dengan tangan kita yang yang menggamit.

SELESAI


Fiksi Lestari.

Jakarta, 4 May.

Salam Bahagia dan Lestari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *