Kunamai kau rindu, meski kau tak pernah mengingatku, dalam detik yang kunamai ruang tunggu.

Kunamai kau harapan, meski kau memiliki selain aku yang diinginkan, dalam penantian yang kunamai ketidakpastian.

Berkali-kali jatuh, tapi tak kunamai itu rapuh.

Berkali-kali patah, tapi tak kunamai itu menyerah.

Kunamakan saja itu jalan hidup yang mesti ditempuh.

Kunamakan saja itu luka hidup yang tak bisa diobati dengan amarah.

Dalam ingatanku, kau selalu ada. Kunamai itu detak jantung yang menyala.

Langkah kakiku, rindumu selalu ada. Kunamai itu cahaya yang membangunkanku setiap harinya.

Entah berupa apa kau menamaiku.

Entah dalam kalimat apa kau mendefinisikanku.

Yang pasti, kau ada di sini, untuk keinginanku yang mungkin ingin menang sendiri, tanpa kau ingini-MENCINTAI-mungkin tanpa sebutan-DICINTAI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *