Warna sinar mentari tidak lebih baik dari cangkir kopiku hari ini.
Terlihat mendung sana-sani.
Begitu pula dengan puisi-puisi


Sepi memunculkan nyeri.
Dadaku terbalut dingin tanpa henti
Hanya sepi yang mampu menari-nari
Sementara tawa bersembunyi
Di sudut hati yang tinggal sendiri


Mendung hari ini dengan secangkir kopi yang memeluk sepi
Rasanya tak pernah mampu membahasakan luka hati


Di malam-malam kita pernah bertukar rindu
Kini hanya puisi yang merangkainya jadi sendu




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *