Ketika kau bertanya apakah aku membencimu, tentu saja SANGAT BENCI jawabku.

Ketika aku menjawab bahwa aku membencimu, tentu saja kau tahu yang sebenarnya bukan begitu.

Lain dikatakan, lain dirasakan, mungkin terlalu banyak kekesalan, tapi tak ingin meninggalkan.

Entah, di mana letak rumah. Aku kehilangan arah. Tapi tak menyerah. Ingin bersama melangkah.

Entah, di mana kau letakkan tentang kita. Aku sibuk mengeja kata, selagi kau masih sembunyikan cinta

Jika kau temukan lagi arah, ikutilah, lalu carilah, ke mana kamu akan menuju rumah, tapi kuharap aku masih jadi sebaiknya rumah, bagimu yang selalu kuanggap indah.

Pintu masih terbuka, untuk membenarkan kata, menjadi sesuai dengan yang dirasa, karena kau tahu faktanya, bahwa aku, selalu cinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *