Mengetahui bahwa kau menjagaku dari jauh saja, sudah lebih dari cukup membuatku bahagia. Tapi, aku tetap saja jadi wanita paling pencemburu di dunia.

Lihat topi yang kau kenakan di kepala. Aku cemburu bahwa topi yang kau pakai keluar rumah mampu mengecup mesra keningmu, sementara aku di sini saja tidak bisa berbuat apa-apa.

A man wearing a brown hat and black dress jacket in Nova York, Texas

 

Seluasnya cinta yang kita punya, faktanya sesak selalu saja menghampiri dada. Mungkin kitalah burung yang ingin terbang pulang, tapi terhalang. Bukan kita yang tak cukup kuat melintasi semua aral-melintang, kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk pulang.

 

 

Kita tidak pernah bisa memaksakan apa yang kita mau, tapi rindu mana pernah mau tahu itu. Dia terus bertanya kapan dia akan dibayar tuntas, agar kurungan rindu mampu terlepas.

Mungkin di mata manusia lainnya, kita hanyalah pecinta yang sibuk merangkai kata, tapi tidak pernah mewujudkan ingin jadi nyata. Padahal, mereka hanya tidak tau rasanya menjadi pecinta yang sulit menemukan realita, dan hanya bisa saling membahagiakan lewat kata-kata.

Hanya kata-kata yang bisa menenangkan, setidaknya untuk saat-saat yang paling menakutkan, tentang kenyataan yang bahkan bisa selalu lebih kejam dari musuh di kegelapan.

Tapi, apa pun kondisinya, kata-kata adalah cahaya harapan. Itu mampu menyelamatkan kita dari gelap rintangan, asalkan kita selalu saling mencintai dalam kepercayaan.

 

Neon lights spell out love against a wooden barn wall

Salam Bahagia dan Lestari

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *