Dia selalu mengajarkan anaknya untuk ke manapun bersama garam. Entah itu makan bersama garam, mengobati luka goresan di tangan dengan taburan garam, atau bahkan belajar filosofi kehidupan dari garam.

Dia tidak pernah minta maaf untuk rasa, yang lebih buruk dari separuh dunia, karena dia percaya, hidup di luar sana jauh lebih buruk dari yang mereka berdua rasakan.

“Kalau kau terbiasa makan dengan taburan garam, dan kau tidak pernah mengeluhkan tentang rasanya, maka kau akan sangat menjadi orang bersyukur bila nantinya kau bertemu dengan rasa yang lebih kaya dari garam. Tapi, bila saat ini kau tidak terbiasa memakan dengan garam, kau tidak akan pernah menjadi orang yang bersyukur bahkan saat makan dengan berbagai macam rasa yang sangat enak dari seluruh dunia. Kau harus mengajari dirimu untuk menjadi lebih kuat, bahkan lebih dari yang kau pikirkan.”

Begitulah dia selalu memberikan petuah pada anaknya. Terdengar sangat keras memang, tapi tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk persiapan hidup ke depannya yang akan jauh lebih keras.

Lalu, bila anaknya menjerit penuh amarah saat seorang lelaki itu pergi begitu saja tanpa menoleh padanya, lalu pulang dalam keadaan yang sama, dia akan mengeluarkan senyum yang paling indah yang dia miliki, lalu dia memeluk erat anaknya untuk meredakan amarah.

Dia memang sudah terbiasa tersenyum untuk menanggapi sikap tidak peduli suaminya. Tapi anaknya, ya, seorang anak yang belum terbiasa berbohong untuk menerima segalanya.

“Hatimu, jadikanlah seluas lautan. Jadi, saat ada hal-hal yang membuatmu marah seperti garam, maka garam yang ditabur ke lautan tidak akan berpengaruh apa pun. Begitu pula dengan hatimu, akan tetap tenang meski banyak masalah yang ditaburi di dalam sana, karena hatimu lebih besar dari masalahmu.”

Butuh waktu, untuk meredakan amarah. Tapi dia memaklumi anaknya. Setelah dia menenangkan anaknya, maka selanjutnya dia yang harus meredakan diri pada amarahnya.

Entah kenapa, kali ini semuanya terasa tidak berhasil. Dia gagal meredakan amarahnya sendiri. Rasanya, hatinya bahkan tak lagi ada hilang begitu saja.

Dia mengunci pintu kamar mandi rapat-rapat, dan harus berpikir cepat.

Dia sudah mengajari anaknya bertahan hidup yang paling keras melebihi keras tangan anaknya yang digunakan memotong rumput untuk kambing mereka.

Dia tidak ingin menua untuk merepotkan anaknya, dan lebih memilih jalannya sendiri untuk mengakhirinya.

Saat seorang anak diam-diam sedang meredakan amarah, ada seorang ibu yang diam-diam telah berhasil melenyapkan diri ke dalam sumur yang dalamnya akan melebihi dendam mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *