Saat itu aku merasa harus bunuh diri. Aku bersiap melompat dari gedung tertinggi. Sebab jika dipikir berulang kali, aku merasa tubuhku memang sudah mati. Tidak ada seorang pun yang melihat pada diriku ini. Bahkan, diri sendiri pun gagal memberi arti. Hanya ada kekosongan yang terus menikam ulu hati.

Hingga akhirnya kau datang, aku menoleh ke belakang. Aku melihat sepasang mata yang berbicara tentang pulang.

“Hei, kau mau bunuh diri?”

“Kau kira aku ini sedang apa? Apa kau pikir aku sedang latihan terbang?” Astaga kamu konyol sekali, jelas-jelas aku ingin bunuh diri, masih ditanya lagi!

Kau melangkah maju ke arahku dengan hati-hati. “Ke marilah. Kau tak berhak pergi.”

“Pergilah, kau tak berhak ke mari. Aku ini sudah mati bahkan sebelum aku memutuskan untuk melompat dari gedung ini. ”

“Kau salah sangka. Kau hanya sekarat, belum mati.”

Siapa kamu? Kita bahkan belum lama bertemu dan entah mengapa aku merasa harus memberimu banyak waktu.

Aku selangkah maju ke arahmu. “Kalau memang aku hanya sekarat, bisakah kamu memberiku alasan adakah yang bisa kamu selamatkan dari aku?”

“Aku melihat yang orang tidak bisa lihat. Aku melihat cahaya dari dalam jiwamu yang harus kuselamatkan.” Matamu terus menatapku dan aku merasa terikat olehmu.

“Lalu, siapa kamu ini? KIta hanyalah dua orang yang sekantor bersama dan belum lama saling sapa,” protesku dengan rasa tidak percaya ada orang yang peduli pada keadaanku. “Padahal, kalau aku lompat sekarang, besok pun tidak akan ada yang merasa kehilangan.”

“Kau anggap aku ini bukan orang yang merasa kehilangan? Apa kau percaya, Tuhan memang mendatangkan seseorang yang tepat saat kau benar-benar terasa sudah sangat sekarat?”

“Jangan bawa-bawa Tuhan. Aku muak!”

“Maka jangan bunuh diri. Aku pun muak! Sudah terlalu banyak yang bunuh diri, tapi tak ada yang mau menyelamatkan diri sendiri! Kalau kau ingin bunuh diri, setidaknya di detik berikutnya kau harus menyelamatkan diri! Jika kamu tidak mau, maka biarkanlah aku yang menyelamatkanmu!”

Aku terduduk lemas saat kamu berteriak melawan kata-kata muakku. Lalu dengan sigap kau memelukku.

“Jangan pergi, hargai aku yang sudah datang untuk mencintai. Karena kau memang sudah kutemukan dan berhak kuselamatkan.”

Aku menangis lepas. Rasanya dalam pelukanmu membuat amarahku pada dunia terasa tuntas. Dan, dadaku tak lagi sesak melihat realitas.

Sambil mengelus puncak kepalaku, kamu membisiku manta yang membuatku seolah lupa bahwa aku pernah ingin bunuh diri di hadapanmu, dan kini berubah menjadi keinginan untuk dicintai seutuhnya olehmu.

The city sky’s feeling dark tonight
We’re back to back with our heads down
Just look at me, give me more tonight
Just give me more of your love now
Let’s set fire to the lonely night

“Tataplah aku, dan percayalah aku akan memberikan lebih untukmu cinta. Dada kita yang akan menyalakan api untuk mengusir kesepian.” Kata-katamu syahdu sekali.

 

Source

You’re beautiful when you look at me
Let’s give love another life
Cause you’ll be safe in these arms of mine
Just call my name on the edge of the night
And I’ll run to you, I’ll run to you

“Walau tidak ada yang melihatmu, tapi aku yang melihatmu. Kamu lebih indah lebih dari apa pun.”

I’ll take the pain, take it all away
Just give it some kind of meaning
Let’s let go, let it be the start

“Aku akan mengambil kesakitanmu, memberimu arti. Mari kita memulai ini sebagai awal.”

You know I’m feeling the same thing
Let’s let go of our broken hearts
Cause you’ll be safe in these arms of mine
Just call my name on the edge of the night
And I’ll run to you, I’ll run to you

“Kamu tahu aku pun merasakan hal yang sama. Mari kita lepaskan dan lupakan patah hati kita. Karena kamu aman dalam pelukanku. Panggillah namaku dan aku akan selalu berlari ke arahmu, hanya padamu, hanya untukmu.”


SELESAI

Catatan: Kata-kata akhir dari “kamu” diambil dari lirik lagu **Run To You” by Lea Michele.  

 

 

Salam Bahagia dan Lestari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *