Ternyata naik mobil baru tidak sespesial yang orang-orang ungkapkan. Aku duduk di mobil baru anakku tanpa perasaan berlebihan.

“Ayah kenapa? Tidak suka dengan mobil pilihan Mira?” Nita–istriku yang duduk bersebelahan denganku sepertinya tahu aku tidak begitu antusias.

Mira melirikku dari spion. Lalu kami pun jadi kikuk. Ayah dan anak perempuannya kikuk? Ya, kami bisa menjadi kikuk karena sejujurnya hubunganku dengan Mira sangat merenggang entah dimulai sejak kapan. Yang jelas, sudah bertahun-tahun rasanya aku dan Mira seolah sedang perang dingin.

“Bukan tidak suka, Ma. Ayah sudah cukup bangga dengan kesuksesan Mira saat ini. Yang paling berharga itu diri Mira. Jadi Ayah sudah biasa saja dengan hal-hal seperti ini.”

“Lalu, perihal rumah baru kita, apa Ayah juga merasa bisa saja?” tanya Nita lagi bertepatan dengan mobil sudah hampir tiba di rumah baru kami di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Aku menatap wajah Mira melalui spion. Aku berusaha menampilkan senyum bahagia, tapi ternyata aku sadar senyum yang terpancar dari wajahku ada senyum palsu.

Ternyata, pura-pura bahagia itu susah. Memangnya, apa sih yang mesti membuatku senang dengan rumah baru itu? Apa gunanya rumah baru tapi suasana di dalamnya sangat dingin?


Makan malam bersama terasa tidak menggugah selera. Padahal, aku sangat senang bisa mencuri-curi pandangan pada Mira. Kalian mungkin bertanya-tanya kenapa aku masih saja tidak bahagia memiliki kehidupan yang sudah lebih baik karena kesuksesan anak perempuanku.

Ada perasaan kosong di dadaku. Aku merasa sudah kehilangan diri Mira. Aku sedih sebagai Ayah tidak bisa merasakan kasih sayangnya. Mira sudah berubah. Ada jarak di antara hubungan kami sebagai ayah dan perempuan, dan itu membuatku sangat tersiksa setiap hari. Tapi, kenapa Mira rasanya tidak mengerti?

“Ayah yakin masih mau jadi tukang ojek?” Mira mengeluarkan pertanyaan untukku, tapi matanya tidak menatapku. Pertanyaannya singkat, tapi tajam ibarat pisau yang menusukku.

“Iya Ayah masih mau jadi tukang ojek. Memangnya ada yang salah?”

Mira meletakkan sendoknya ke piring dengan keras sehingga aku paham itu tanda dia marah padaku. Marah? Ah, biasa saja. Toh, sejak dulu dia selalu marah padaku.

“Percuma Mira kerja mati-matian membahagiakan orang tua, tapi ternyata Ayah gak pernah mau Mira bahagiakan.” Kali ini, dia berani menatapku. “Ayah tahu, Mira menambah extra waktu untuk mencari uang di Steemit hanya untuk Ayah dan Mama. Cukup kalian duduk di rumah, tunggu Mira pulang bekerja, bukan malah tetap bekerja seperti dulu!”

Mira tidak menunggu tanggapanku. Dia langsung meninggalkan meja makan disertai hentakan kursi dengan keras.

Aku tahu niatnya sangat baik, tapi sesungguhnya aku cuma ingin tetap jadi tukang ojek! Tak peduli apa nanti kata orang lain yang melihat.

Aku meninggalkan meja makan, dan menuju ruang keluarga. Foto keluarga berbingkai kecil di nakas samping televisi lalu kubawa foto itu ke beranda.

Kegiatan favoritku setiap malam, yaitu menatap foto keluarga di beranda rumah sambil merenungi kehidupan dan sesekali beralih menatapi langit malam yang kadang berbintang, kadang hitam legam yang terasa menyesakkan.

Aku menatap diri Mira yang masih kecil di foto itu. Sungguh Mira sangat lucu. Tubuhnya berpose di tengah aku dan Nita. Rambutnya di kepang dua, dan poni rambutnya diikat ke atas menggunakan tali rafia berwarna pink.

Foto Mira saat kecil melemparkanku ke masa lalu.

MASA LALU

Aku berada di beranda rumah setelah makan siang. Aku beristirahat sejenak untuk selanjutnya aku mencari pelanggan ojek lagi.

Mira baru saja pulang sekolah. Kepalanya tertunduk. Aku pun segera menariknya dalam pangkuanku.

“Hei, anak Ayah yang cantik. Kenapa cemberut? Terus ini kenapa rambut kamu menutupi muka begini?”

Mira menatapku dengan mata bidadarinya yang lembut khas. Terlihat seperti ada air mata yang tertahan.

“Kata teman-tema Mira, kepalaku mirip ikan lohan. Dahi Mira lebar. Mira jelek ya, Yah?”

Aku menyingkirkan rambut di wajah Mira, lalu kupencet dengan gemas hidungnya. “Kamu itu cantik sekali, Sayang. Coba sekarang Ayah tanya ke kamu, kamu ingin menjadi pintar atau bodoh?”

“Menjadi pintar, Ayah.”

“Lalu, kalau ingin menjadi pintar, apa yang harus kau lakukan?”

“Belajar,” ucapnya polos.

“Nah, tunggu di sini sebentar, ya.” Aku mendudukkan Mira di kursi, lalu aku beranjak ke dalam rumah mencari tali rafia.

“Tali itu untuk apa, Ayah?” Mira keheranan melihatku datang dengan tali rafia berwarna pink di tanganku.

Aku mendekati Mira dan menata rambutnya. Mira tidak memberontak dan menerima perlakuanku padanya.


Source
“Sayang, Ayah tidak suka kalau wajahmu tertutupi rambut. Kalau rambut kamu menusuk mata, bisa bahaya. Yang terpenting, kamu bisa belajar dengan tenang. Ayah cuma mau melihat kamu menjadi pintar. Jangan pedulikan omongan orang lain tentang dahimu yang mirip ikan lohan. Bagi Ayah, kamulah segalanya, Sayang. Kamulah yang paling cantik. Kamu percaya Ayah, kan?”

“Kenapa Mira harus jadi pintar, Ayah?” tanya Mira saat sudah duduk di pangkuanku lagi.

“Karena kepintaran tidak bisa diberikan orang lain kepadamu. Orang lain tidak akan bisa membuatmu pintar selain dirimu sendiri. Tetapi, orang lain bisa membuatmu cantik. Jadi, nomor satu, pentingkanlah kepintaran, ya, Sayang.”

Mata bidadari Mira berbinar. Kedua telapak tangan mungilnya merengkuh kedua pipiku. Aku merasa telah memiliki seluruh dunia hanya dengan sentuhan Mira.

“Mira sayang Ayah.”

“Sayang milik Ayah kepada Mira lebih besar dari apa pun. Selalu jadi gadis kesayangan Ayah, ya.”


MASA KINI

Mira, ke mana dirimu yang Ayah cintai lebih dari apa pun? Dirimu tersesat di mana? Ayah merasa tidak lagi memiliki apa pun selain rasa hampa di dada.

Kutatap langit hitam legam yang tiada bintang. Kini dadaku merasa seperti langit hitam itu. Kosong, hampa, terasa penuh kekelaman. Tidak ada sedikit pun cahaya kebahagiaan.

Semua ini terjadi karena aku merasa kehilangan gadis kecilku yang dulu. Mira kini telah tumbuh dewasa dan aku tidak mampu mengejar perubahannya.

Rindu itu ternyata mengerikan. Bertahun-tahun menahan rindu merampas habis rasa bahagia dalam diriku. Rindu semakin mengerikan karena ternyata aku merindukan orang yang sangat dekat jaraknya denganku. Aku dan orang yang kurindukan berada dalam satu rumah, tapi rasanya kami seperti terpisah jarak jutaan tahun cahaya.

Aku rindu menggenggam tangan mungilnya saat berjalan malam hari berdua di Pasar Malam. Aku rindu mengikatkan poni rambutnya dengan tali rafia. Aku rindu membelikannya es krim murahan di pinggir jalan. Aku rindu mendengar kata cinta darinya.

Dan yang paling menyesakkan adalah, aku sangat rindu Mira mau untuk aku bonceng dengan motor tuaku ini.

Saat ini, Mira pasti tidak mau lagi melakukan itu semua padaku. Mira sudah berubah, apalagi sejak Mira sukses di dunia Steemit, yang aku sendiri tidak paham itu apa.

Aku tidak pernah suka mengendarai mobil baru milik Mira, karena aku tidak bisa memeluknya. Aku hanya ingin mengendarai motor lama yang penuh kenangan, karena aku bisa dipeluk olehnya sepanjang perjalanan.

Apakah seorang Ayah tidak lagi mendapat tempat di hati anak perempuannya saat anak perempuannya telah beranjak dewasa?

“Ayah kebiasaan selalu melamun. Daripada melamun, mending seperti Mama, baca tulisan Mira di Steemit.” Nita mendatangiku dengan ponsel di tangannya. Tentu saja ponsel baru pemberian Mira.

“Apa yang ditulis Mira, Ma?” Aku beralih menatap wajah Nita yang duduk di kursi sebelahku.

“Mira menulis tentang resep Mama yang difavoritkannya.”

Aku terdiam. Dadaku tertikam lagi oleh kepedihan.

Kapan Mira akan menuliskan tentang aku? Apa memang aku sudah tidak ada lagi artinya?


Aku akui, aku yang salah karena sudah menciptakan kerenggangan hubungan antara ayah dan anak perempuan.

Sejak Mira SMA hingga tamat kuliah, aku tidak pernah mengantarkan dengan motorku. Hingga perlahan tembok besar mulai menghalangi hubungan kami. Mira mulai tidak banyak bicara padaku bahkan kini lebih parah. Mira menganggapku orang asing yang disapanya di pinggir jalan hanya untuk formalitas moral.

Aku tidak tahan lagi terus-terusan hidup dengan dadaku hampa tanpa ada Mira di dalamnya. Aku tidak akan sanggup.

Pagi ini aku memberanikan diri mendekati Mira di dapur. Dia sedang membuat kopi.

“Mira, buatkan kopi untuk Ayah sekalian, ya,” pintaku tanpa basa-basi karena sebenarnya aku pun gengsi memulai percakapan lebih dahulu.

“Untuk apa minta buatkan Mira? Biasanya Ayah minta buatkan Mama,” ketus Mira dengan posisi tubuh membelakangiku.

“Hari ini, Ayah ingin minta buatkan Mira, bukan Mama.”

“Mira gak mau. Kopi buatan Mira gak enak.”

Aku tahu, Mira sengaja berlama-lama mengaduk kopinya untuk menghindari bertatap mata denganku. Akhirnya, aku pegang lembut lengannya dengan hati-hati.

“Dengarkan Ayah, tidak peduli kopi buatanmu enak atau tidak. Ayah cuma ingin minum kopi buatanmu dan menghabiskan akhir pekan ini bersamamu. Hanya kamu.”

“Tumben,” ketus Mira yang masih keras kepala.

“Ayah gak sanggup kalau harus mati tanpa ada kamu di hati Ayah. Jadi, sebelum Ayah mati, Ayah cuma mau kamu kembali ke hati Ayah, seperti kamu mencintai Ayah saat masih menjadi gadis kecil dahulu.”

Ada jeda di antara kami, lalu tak lama kemudian, Mira mau menatapku.

“Duduklah, Mira akan membuatkan kopi untuk Ayah.”

Aku menurutinya dengan duduk di areal meja makan, sambil menatapi punggungnya. Ah, anak perempuanku sebentar lagi akan diminta menemani hidup lelaki lain yang bukan aku tentu saja.

“Sudah saatnya kita mengakhiri apa yang selama ini terjadi di antara kita, Mira.”

“Memangnya apa yang sudah terjadi di antara kita selama ini? Mira rasa tidak ada yang terjadi di antara kita.”

Aku menarik napas panjang. Aku bersiap untuk membuang seluruh gengsiku, dan harus mengakhiri perang dingin di antara kami berdua.

“Kamu menjauh dari Ayah. Kamu tidak lagi mencintai Ayah.”

Mira membanting sendok di tatakan gelas.

“Ayah yang jauh dari Mira! Ayah bahkan tidak pernah tahu rasanya menjadi Mira, seorang anak tukang ojek yang tidak pernah diantar ke sekolah!”

Tubuhnya masih membelakangiku, tapi aku tahu dia sedang menangis. Aku mendengarnya terisak.

“Mira, maafkan Ayah.” Aku tertunduk, tak sanggup melihat Mira.

“Ayah selalu Mira maafkan, tapi apa Ayah bisa menggantikan waktu kita yang terbuang? Karena Ayah tidak akan pernah paham rasanya menjadi anak perempuan yang tidak pernah diantar ke sekolah oleh ayahnya!” pekik Mira disertai isakan.

Aku tidak sanggup. Dadaku ingin meledak oleh isakan. Aku memutuskan untuk beranjak pergi. Tapi sebelum pergi, ada hal yang harus Mira ketahui saat ini juga.

“Mira, kau harusnya paham kenapa Ayah berbuat seperti itu. Kamu harusnya paham Ayah tidak pernah ingin teman-temanmu mengejekmu, tidak mau berteman denganmu karena Ayah ini adalah tukang ojek. Ayah tidak ingin kamu dianggap rendah.”

“Lalu, kenapa Ayah yang menganggap rendah diri Ayah?” Kali ini sendok dibantingnya ke lantai dan tubuhnya berbalik menatapku. “Ayah bilang aku yang berubah, tapi ternyata Ayah yang berubah! Ayah tidak ingin aku merasa bangga dengan memiliki Ayah.”

Aku terdiam di tempatku. Perasaan bersalah melukai diriku semakin parah. “Mira, Ayah mencintaimu. Maka Ayah tidak ingin kamu dianggap rendah hanya karena ayahmu ini tidak memiliki derejat sosial yang baik.”

Dengan air mata yang masih berlinangan di pipi, Mira membawakanku kopi. Diletakkannya kopi di hadapanku, dan ditatapnya nanar mataku.

“Sama seperti kopi ini, bukan masalah enak atau tidak enak. Bagiku, Ayah bukan perihal kaya atau miskin. Bukan perihal memiliki pekerjaan yang baik di tingkat sosial! Sama seperti Ayah yang ingin kopi buatan Mira, Mira pun hanya ingin diantar ke sekolah oleh Ayah.”

Aku langsung berdiri memeluk Mira dan Mira menerima pelukanku. Kutenangkan tangisannya dalam pelukanku.

“Ayah tidak yakin Mira akan mau mengulang hari dengan Ayah seperti waktu kamu kecil. Dengan apakah Ayah harus menebus semua kesalahan ini? Apakah masih ada waktu bagi Ayah untuk melakukan tugas seperti ayah di waktu kamu kecil?”

Mira mengangkat wajah yang semula dibenamkan di wajahku. Kedua tangannya merengkuh wajahku, sama seperti adegan waktu Mira kecil dulu.

“Tak ada kesalahan, Ayah. Semua hanya kesalahpahaman. Tidak ada gunanya kita bertengkar untuk sesuatu yang sudah terjadi di masa lampau. Aku ingin menikmati hidup dengan Ayahku yang apa adanya. Aku masih mencintai Ayah. Tidak ada yang berubah.”

“Ayah pikir, Ayah seperti langit kelam malam yang tidak lagi didatangi bintang.”

“Ayah salah. Bintang tetap ada di tempatnya. Hanya saja Ayah tidak menyadarinya.”

Mira sudah dewasa, dan aku bersyukur dia bisa menerima alasan yang menjadi penyebab kami perang dingin selama ini. Ternyata, permasalahan ini tidak serumit yang aku pikirkan. Egoku yang membuat masalah ini jadi terlihat rumit.

“Maukah Ayah menjadi tukang ojek pribadi Mira?”

Pertanyaan manja Mira menjadi awal bagi hubungan ayah dan anak yang baru saja berbaikan dari kesalahpahaman.


“Mama, Mira, Ayah punya kabar baik,” pekikku saat baru saja tiba dari rumah menjemput Mira dari kantornya.

“Motor Ayah sudah tua, Ma!” ledek Mira.

“Karena sudah tua, makanya Ayah pensiun jadi tukang ojek!”

“Bukan motornya yang sudah tua, Ayah yang memang sudah tua.” Kini giliran Nita yang meledekku sambil meletakkan air dingin di atas meja beranda.

Kami bertiga pun duduk bersama di beranda rumah. Langit senja memang tidak terlihat dari rumah ini, tapi kami sudah merasakan senja di hati masing-masing dengan kebahagiaan yang kami punya saat ini. Rasa memiliki dan ikatan hubungan di antara kami bertiga yang membuat dadaku utuh kembali.

“Apakah Ayah mau melihat postingan Mira di Steemit?” Mira bersiap menyodorkan ponselnya padaku.

“Ah, Ayah tidak mau melihat postinganmu yang isinya resep masakan milik mamamu,” ledekku.

“Baca saja, nih!”

Aku menerima ponsel dari Mira, lalu Mira dan Nita mendekat di kanan dan kiriku. Ya Tuhan, aku merasa sangat-sangat beruntung bisa memiliki mereka berdua.

Ternyata Mira menyanyikan sebuah lagu yang kedengarannya sangat sendu, meski aku tidak tahu apa artinya karena menggunakan bahasa Inggris.

“Mira, apa arti lagu itu?”

Lalu Mira memelukku erat. “Artinya, pelukan Ayah seluas langit yang penuh bintang, dan aku ingin mati di pelukan Ayah.”

Aku memeluk erat mereka berdua. Aku merasakan sesak mendengarkan nyanyian Mira.

“Mira, kamu selalu jaga kesehatan untuk Ayah, ya. Kamu harus sehat untuk menemani Ayah hingga hari tua dan dipanggil Tuhan. Ayah hanya ingin mati di pelukan seluas cinta kamu dan Mama.”

“Ayah, kenapa bicara seperti?” Ada nada kesedihan dalam pertanyaan Mira.

Karena seorang ayah yang menyerukan Azan di telinga anaknya untuk pertama kali saat lahir ke dunia, tidak akan ingin mengucapkan kalimat penuntun saat melepas nyawa.

Kukecup pipi Nita dan Mira bergantian. Aku bersyukur menjadi lelaki yang berkesempatan mengungkapkan cinta yang paling berharga sebelum aku tiada. Sebab anugerah terindah di dunia ini adalah didengarnya ucapan cinta kita dan kata cinta itu bisa dibalas.

“Aku mencintaimu, Ayah. Aku mencintaimu tanpa pernah sedetik pun terlepas dari ingatanku yang paling indah.”

SELESAI

Salam Bahagia dan Lestari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *