Karena kopi selalu layak dijadikan narasi,

meski berisi pedihnya isi hati

maupun senangnya perasaan di hati.

Cinta mampu menghabiskan dirinya sendiri, setiap hari, menanti untuk diisi lagi, berulang kali
Maka cinta bukan untuk hati yang mudah berganti, bukan untuk jiwa yang mudah pergi.

Candu, secangkir kopi itu selalu meracik rindu.
Diteguk tanpa ragu
Tercecap kepahitan, mungkin kepedihan
Rasanya dada terlalu banyak menyimpan perasaan

Entah pahit atau manis
Entah bahagia atau luka
Harusnya dinikmati bersama

Serupa kau mengadu pada secangkir kopi setiap kali sedih menyerang hatimu
Serupa tangismu pecah di tempat yang kau sebut rumahmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *